Alumni Ilmu Perpustakaan IPB

Salemba, Jakarta—Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2012 menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara di dunia, khususnya dalam konteks pemenuhan kebutuhan dasar penduduk (pendidikan, kesehatan, dan melek huruf). Dengan total penduduk 200 juta lebih, terbitan buku yang beredar hanya 50 juta per tahun. Artinya, rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang. Beberapa survey pun memperlihatkan minat baca di Indonesia termasuk rendah di Asia. Bahkan, kalah jauh dari Singapura atau Malaysia.
Rendahnya minat baca di Tanah Air bukan tanpa sebab. Faktor-faktor penghambat minat baca antara lain kondisi ekonomi masyarakat, maraknya hiburan TV, menjamurnya tempat hiburan/rekreasi, sampai harga buku yang masih belum terjangkau. “Buku belum dianggap kebutuhan,” ujar aktor Ray Sahetapy saat menjadi pembicara Talk Show Perpustakaan Sahabat Terbaik Keluarga Indonesia, Jakarta, Rabu, (13/6).

Kondisi yang dialami saat ini merupakan realitas bahwa masyarakat Tanah Air masih lebih lekat dengan budaya tutur (oral tradition) daripada budaya baca. Di tengah kuatnya tarikan budaya tutur, tiba-tiba muncul teknologi audio visual dengan ragam sajian hiburan yang tidak saja dapat didengar tapi juga mampu dilihat. Kondisi ini kian mengaburkan masyarakat terhadap budaya baca, karena budaya menonton dan mendengar jauh lebih mudah dan menyenangkan daripada budaya membaca. “Padahal, keluarga merupakan wadah bagi para orangtua menyemai benih aktivitas membaca sejak dini,” ujar Kepala Perpusnas Sri Sularsih.
Kehadiran media televisi seperti televisi telah membius masyarakat untuk berpikir lebih baik. Dari kota hingga pelosok desa. Sayangnya, program yang ditonton didominasi tayangan hiburan atau sinetron yang menjual mimpi. Aktivitas menonton dan membaca harus seimbang.
Keluarga sebagai garda terdepan harus mampu menjadi contoh kegiatan rutin membaca bersama di rumah. para orangtua harus mulai kembali kepada kebiasaan lama untuk membaca koran, majalah, novel atau buku. Perkembangan Iptek yang melahirkan gadget harus bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan kegemaran membaca. “Saya tumbuh dari keluarga pembaca. Kedua orang tua saya juga memiliki perpustakaan,” ucap anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Meutia Hatta.
Lewat membaca, putri mendiang Tokoh Proklamator Muhammad Hatta melanjutkan, kita bisa belajar bahasa, karakter, kerapihan dan klasifikasi dasar. Kebiasaan menonton televisi sebaiknya dibatasi, sehingga tersedia waktu luang lebih banyak untuk membaca. Semua orang memerlukan hiburan, tapi jangan sampai mengurangi jatah membaca dan bersosialisasi. “Ini harus diterapkan.”
Adanya lompatan budaya lisan ke budaya menonton (visual) tidak saja melemahkan budaya baca namun juga menghilangkan sensitivitas masyarakat terhadap bacaan. Sama artinya dengan terjadinya stagnasi budaya yang menjebak masyarakat Indonesia dalam budaya tutur.
Upaya menumbuhkembangkan minat baca tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan. Masyarakat perlu diberikan berbagai bahan bacaan berkualitas guna mengantisipasi perkembangan iptek. Undang-undang Nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) menjelaskan bahwa perpustakaan merupakan sumber daya pendidikan yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan prasekolah, pendidikan dasar dan menengah.
Dalam kehidupan yang serba modern dengan perkembangan dan penyebaran informasi yang begitu cepat, perpustakaan memegang peran signifikan. Perpustakaan telah menjadi ruh dari budaya bangsa dan simbol peradaban umat manusia. Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, peningkatan mutu SDM harus cepat dilakukan guna mengantisipasi kondisi global dan kemajuan dunia. Pemanfaatan perpustakaan menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas tersebut.
Selama ini masyarakat yang menggunakan perpustakaan dikenal dengan sebutan kutu buku. Hal ini disebut pakar komunikasi Effendy Gazali sebagai paradigma yang keliru. Julukan kutu buku tidak jauh beda dengan sebutan lain yang agak serupa yang bermakna negatif. “Ini merupakan tindakan kriminal intelektual,” ucapnya lantang. Pun demikian dengan sebagian pihak yang masih menganggap perpustakaan sebagai tempat buangan.

Sumber: Hartoyo D

Timlo Net

Sukoharjo — Harapan Sekolah Anak Jalanan binaan KRAB dan BNK Sukoharjo memiliki perpustakaan sendiri, akhirnya terwujud. Saat ini, Sekolah Anak Jalanan BNK telah memiliki sedikitnya 552 eksemplar koleksi buku yang di dapatkan dari sumbangan …

<http://www.timlo.net/baca/71832/ini-dia-perpustakaan-anak-jalanan-di-sukoharjo/&gt;

 

Harian Ekonomi Neraca

Berawal dari kegelisahan akan menurunnya minat baca di kalangan pelajar, Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (BAPUSIPDA) Jawa Barat bekerjasama dengan Singapore International Foundation (SIF) berinisiatif memberikan perpustakaan …

<http://www.neraca.co.id/harian/article/28456/Tingkatkan.Minat.Baca.Pelajar.Indonesia&gt;

LensaIndonesia.com

Pada Januari tahun lalu, jumlah pengunjung perpustakaan mastrip sebanyak
8.426 orang. Pada bulan Februari sebanyak 7.348 orang, Maret 7.909 orang
dan pada April, pengunjungya sebanyak 6.762 orang. “Jumlah pengunjung fluktuatif, tidak mesti …

<http://news.google.co.id/news/story?ncl=http://www.lensaindonesia.com/2013/05/18/minat-baca-masyarakat-jombang-di-perpustakaan-turun.html&hl=id&geo=id>

M Yamin, Padek—Kalangan universitas harus memperkenalkan ruang-ruang publik di kampus dengan pelayanan memuaskan. Dengan begitu, setiap orang yang berkunjung mendapat pelayanan informasi yang memadai.

Baca entri selengkapnya »

JOGJA – Berawal dari kegelisahan melihat siswa lesu dan tidak semangat belajar, pengajar MAN Jogjakarta II Sri Narwanti merancang metode pembelajaran bisa menghidupkan proses pembelajaran di sekolah. Ide tersebut lalu dirangkum dalam sebuah buku Creative Learning: Kiat Menjadi Guru Kreatif dan Favorit diterbitkan penerbit Familia. Baca entri selengkapnya »

Stok opname dan weeding (penyiangan) merupakan satu proses satu kesatuan dalam pembinaan koleksi sebuah perpustakaan. Jajaran koleksi yang tersimpan dalam rak-rak dalam jangka waktu minimal 1 tahun harus distok opname.

Baca entri selengkapnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.